Fokus Mengamankan Siber

totosudarmongi —┬áPerang siber ialah perang yg dihadapi dunia saat ini.

Ancamannya bukan hanya pada orang per orang atau industri, melainkan juga negara.

Kekuatan armada dan sumber daya bisa tidak berarti, ketika lemah di sisi siber.

Perang itulah yg sudah disadari Presiden Joko Widodo. Oleh karena itu, langkah Presiden menguatkan peran dan fungsi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) ialah mutlak utk mengantisipasi pertumbuhan sangat cepat dunia siber.

Perubahan itu dilakukan lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 133 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 53 Tahun 2017 tentang BSSN pada yang ditandatangani 16 Desember 2017 lalu.

Kini, BSSN berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden dgn tugas menjaga keamanan siber secara efektif dan efisien.

Pekerjaan besar BSSN ialah membangun lingkungan (ekosistem) ranah siber Indonesia yg tahan dan aman.

BSSN juga menjadi penyelenggara dan pembina tunggal persandian negara dlm menjamin keamanan informasi berklasifikasi milik pemerintah atau negara.

Seperti juga sebuah kapal, keberhasilan perjalanannya juga bergantung pada sang nakhoda. Rabu, Presiden menempatkan Mayor Jenderal Djoko Setiadi di tampuk kepemimpinan BSSN.

Penunjukan itu membawa harapan besar sepak terjang BSSN karena Djoko bukanlah nama baru di bidang persandian dan intelijen.

Sayang, terjangan pertama yg dibuat Djoko justru pernyataan kontroversial. Sesaat setelah pelantikannya, Djoko mempersilakan beredarnya hoaks yg membangun.

Meski sejarah umat manusia memang mengenal istilah white lies, pernyataan Djoko, terlebih diucapkan sebagai imbauan, merupakan hal yg sangat tdk patut.

Pernyataan lanjutan Djoko yg meralat imbauan hoaks itu, dgn alasan demi menarik perhatian media, tetap tdk mampu menghapuskan kontroversi yg sdh ia buat.

Kecuali Djoko ingin disejajarkan dengan selebritas sensasional, tidak ada perlunya ia menarik perhatian media.

Kita berharap Djoko juga sepatutnya segera berkoordinasi dengan lembaga-lembaga lainnya terkait dgn keamanan siber.

Yang tidak kalah penting pula ialah menjaga prinsip antikegaduhan dlm kerja mereka.

Pasalnya memang kesenyapanlah yg diperlukan utk unggul di medan perang siber dan sandi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *