Berebut Pengaruh di Lumbung Suara

totosudarmongi —┬áSejak jauh hari, KPU telah menetapkan jadwal pendaftaran calon pada 8-10 Januari 2018. Namun, seperti yang sudah-sudah, hari pertama pendaftaran selalu sepi peminat.

KPU sebenarnya sudah mengimbau partai pengusung untuk mendaftarkan calon sebelum batas waktu pada 10 Januari 2018. Imbauan KPU itu untuk mengantisipasi potensi calon tak memenuhi syarat pada hari terakhir pendaftaran.

Akan tetapi, imbauan tetaplah hanya imbauan. Hari terakhir atau setidaknya hari kedua pendaftaran tetap menjadi favorit bagi calon beserta partai pendukungnya untuk mendaftar. Macam-macam alasannya. Ada yang memang menunggu kelengkapan administrasi dan dukungan.

Ada pula yang menjadikan waktu pendaftaran sebagai bagian dari taktik.

Itu terutama terjadi di Jawa dengan tiga provinsi besarnya, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jangan lupa, ketiga daerah itu merupakan lumbung suara nasional. Jumlah pemilih di tiga provinsi terbesar di Pulau Jawa itu mencapai 48% dari total suara nasional.

Hingga hari ini, hanya Jawa Barat yang sudah memiliki pasangan calon lengkap. Mereka ialah duet Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dan TB Hasanuddin-Anton Charliyan.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih ada satu pasangan yang belum menentukan calon wakil gubernur. Di Jawa Tengah, pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen Zubair sudah dipastikan bakal maju.

Namun, mereka belum punya calon lawan karena kandidat lain, Sudirman Said, hingga kini belum menemukan teman duet.

Cerita sama terjadi di Jawa Timur. Baru pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak yang siap mendaftar. Syaifullah Yusuf yang sebelumnya sudah mantap berduet dengan Abdullah Azwar Anas, kini terpaksa harus ‘menjomblo’ lagi setelah Azwar Anas undur diri.

Bongkar pasang, pindah gerbong, juga aksi undur diri di hari-hari terakhir yang mewarnai pilkada Jabar, Jatim, dan Jateng itu kian membuktikan bahwa untuk urusan politik, harus diakui, Jawa masih menjadi sentral.

Kini tinggal publik yang menilai, perlombaan partai-partai politik berebut pengaruh di Jawa itu demi kepentingan nasional atau keuntungan partai semata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *